Jangan berada di sana kau tau apa saja pro dan kontra yang akan terjadi. Kemarilah, dan lambaikan tanganmu kepada garis-garis mendung itu. Sekarang kau bisa melangkah mengikuti butiran-butiran cahaya yang silau ini. Di sini kau akan mendapatkan sebuah episode yang menyejukkan duniamu. Ragamu kini berada di atas alunan melodi yang terdengar seperti air terjun pagi hari. Kau sekarang bisa merasakan kesejukannya, kau sekarang harus merasakan kenyamanan dalam rangakian ini. Apakah aku harus menenggelamkanmu ke dalam rangkaian tulisan bodohku ini? Apakah mungkin aku bisa membuat orang-orang seperti berada di bawah khayalanku sendiri? Kau tahu? Sekarang kau berada di bawah payung yang diselimuti bintang-bintang yang berkilau, cobalah untuk beberapa detik memejamkan matamu dan dan bayangkan kau sekarang tepat berada di tepi lautan yang diselingi sehelai tiupan angin? Apakah kau merasakannya sekarang? Bagaimana jika aku mengatakan bahwa sekarang kau sedang sendirian tak ada raga dan jiwa lain yang berada di dekatmu? Kini semua hanya ada batas dari tembok-tembok putih yang kokoh. Kau sekarang menghela nafas yang dalam. Kau sekarang mengatakan bahwa, aku sedang berada di bawah khayalannya, aku sekarang sendirian, aku sekarang berdiri dengan raga dan jiwaku sendiri, aku kini memandangi tembok-tembok putih ini. Aku ingin melantunkan sebuah syair lagu namun di sini begitu sunyi. Aku merasakan betul bagaimana getaran dari helaan nafasku saat aku bercakap. Aku ingin pergi dari sini. Sekarang aku tahu aku tak pantas sendiri. Aku membutuhkan jiwa-jiwa dan raga yang lebih untuk mengisi duniaku. Kau akan memejamkan matamu dan pikiranmu kini melayang. Menembus semua khyalanku, kini kau berada dalam duniamu. Kini kau sadar bahwa aku tak bisa menenggelamkanmu dalam khayalan dari tulisan bodohku ini. Karna, setiap jiwa dan raga akan berada dalam getaran khyalannya sendiri.
Senin, 24 Juli 2017
Tenggelam Dalam Imajinasi
Tenggelam Dalam Imajinasi
Jangan berada di sana kau tau apa saja pro dan kontra yang akan terjadi. Kemarilah, dan lambaikan tanganmu kepada garis-garis mendung itu. Sekarang kau bisa melangkah mengikuti butiran-butiran cahaya yang silau ini. Di sini kau akan mendapatkan sebuah episode yang menyejukkan duniamu. Ragamu kini berada di atas alunan melodi yang terdengar seperti air terjun pagi hari. Kau sekarang bisa merasakan kesejukannya, kau sekarang harus merasakan kenyamanan dalam rangakian ini. Apakah aku harus menenggelamkanmu ke dalam rangkaian tulisan bodohku ini? Apakah mungkin aku bisa membuat orang-orang seperti berada di bawah khayalanku sendiri? Kau tahu? Sekarang kau berada di bawah payung yang diselimuti bintang-bintang yang berkilau, cobalah untuk beberapa detik memejamkan matamu dan dan bayangkan kau sekarang tepat berada di tepi lautan yang diselingi sehelai tiupan angin? Apakah kau merasakannya sekarang? Bagaimana jika aku mengatakan bahwa sekarang kau sedang sendirian tak ada raga dan jiwa lain yang berada di dekatmu? Kini semua hanya ada batas dari tembok-tembok putih yang kokoh. Kau sekarang menghela nafas yang dalam. Kau sekarang mengatakan bahwa, aku sedang berada di bawah khayalannya, aku sekarang sendirian, aku sekarang berdiri dengan raga dan jiwaku sendiri, aku kini memandangi tembok-tembok putih ini. Aku ingin melantunkan sebuah syair lagu namun di sini begitu sunyi. Aku merasakan betul bagaimana getaran dari helaan nafasku saat aku bercakap. Aku ingin pergi dari sini. Sekarang aku tahu aku tak pantas sendiri. Aku membutuhkan jiwa-jiwa dan raga yang lebih untuk mengisi duniaku. Kau akan memejamkan matamu dan pikiranmu kini melayang. Menembus semua khyalanku, kini kau berada dalam duniamu. Kini kau sadar bahwa aku tak bisa menenggelamkanmu dalam khayalan dari tulisan bodohku ini. Karna, setiap jiwa dan raga akan berada dalam getaran khyalannya sendiri.
Rabu, 05 Juli 2017
Jika Aku Berada Di Antara Titik Khayalan
Jika aku mencoba berada di antara titik-titik khayalan, akan kubentangkan pandangan ini hingga ke sudut jejak-jejak waktumu. Akan kualirkan pendengaran ini hingga menerobos ke retakan jari-jarimu. Akan kuulurkan lengan ini hingga menggapai lapisan-lapisan nadimu. Di sini akan aku coba untuk menerawang di atas angkasamu, menghitung deretan lampu-lampu kejayaanmu. Mengikuti alunan akselerasi tempomu. Memberikan afirmasi terhadap fenomenamu. Kemudian kutambahkan beberapa adendum pada setiap lembaran episodemu. Kutahu, semua episode mempunyai defisit-defisit tertentu. Perlu kutanamkan dedikasi pada tanahmu, untuk menutup segala defisit itu. Kebebasan mengambil keputusan sendiri dalam setiap situasi yang dihadapi. Kerusakan pada saraf-sarafmu yang menimbulkan friksi. Para rombongan menerobos untuk melakukan genosida. Akan aku mulai untuk mengkritik semua fenomena-fenomena dalam setiap periodemu. Aku melihat, dan mengkritik " mengapa dalam keadaan krusial, angkatan-angkatan itu masih saja duduk terpaku di kursi-kursi mereka? Mengapa semakin hari semakin banyak kausalitas di atas telapak tanganmu? Mengapa kontradiksi semakin melambung naik ke atas angkasamu? Mengapa konspirasi masih saja bergumam ke sana sini? Lalu bagaimana strategimu untuk mengambil moderat dari semua kritikan itu?" Aku tahu ini kisah fenomena yang menciutkan laskar kegentingan, mungkin saja tindakanmu akan datang pada tempo-tempo yang lebih bergelombang lagi, yang berada jauh di depan mata. Serpihan-serpihan jejakmu akan semakin bertambah dalam barisannya, menyimpan beberapa adegan bagimu pada episode mendatang. Sekarang, kau tak perlu memaparkan jawaban tentang semua kritikan itu. Karena aku akan berdiri di antara titik khayalan dan kenyataan.
Temanku adalah
Temanku adalah waktu yang terburu-buru Senja tak sempat jatuh di lengkung langit
Memberi semacam senyum kepadamu Temanku adalah hujan yang berdansa di pelupuk daun, berlari-lari ke pintu rumahmu mengetuk-ngetuk, membawa semacam rindu
Kita semacam kertas yang tercabik-cabik Lusuh dengan tinta yang luntur
Kamu adalah kumpulan bait lagu pendek
yang telah selesai dilantunkan
Aku adalah kumpulan larik dari sajak panjang yang belum selesai dituliskan
Ternyata kita jauh berbeda
Jika Aku Tak Menulis Tentang Cinta
Jika aku tak menulis tentang cinta, apakah lantas tulisanku jadi tidak menarik?
Jika aku tak mengisahkan bagaimana aku jatuh cinta pada cara pandang seseorang, tingkah laku dan gerak geriknya, apakah kemudian tulisanku tak layak untuk dinikmati?
Jika aku bukan seseorang yang kasmaran melankolis, melainkan perempuan rasional-realistis, apakah lalu aku menjadi orang yang menjemukan?
Kepalaku dipenuhi dengan pertanyaan - pertanyaan tentang hidup, apa yang harus kupilih dalam hidup, apakah Tuhan ridho padaku kalau aku memilih ini atau itu, aku hanya punya sedikit waktu dan begitu banyak yang ingin kulakukan, apa yang Tuhan inginkan dariku untuk kuperankan?
Serta dikontaminasi oleh imajinasi - imajinasi fiktif sebuah dunia yang mungkin hanya bisa kulihat saat aku memejamkan mata. Dan hanya ada di kepalaku. Tentang kehidupan - kehidupan menakjubkan, danau misterius, hutan penuh dengan bunga - bunga ajaib, manusia bisa berenang di antara bintang - bintang. Sekaligus kepentok dengan perhitungan matematis saintifik bahwa imajinasi tersebut tidak nyata dan mustahil terwujud dengan hukum alam yang berlaku. Entah jika ternyata manusia bisa melampaui penemuan penemuan besar selama berabad - abad ini.
Di antara semua itu. Rasanya sulit jatuh cinta. Kecuali pada orang yang sama gilanya denganku. Jadi kalaupun aku menulis puisi cinta yang jadi kegemaran banyak manusia, mungkin rasionalnya terasa seperti kau membaca sebuah kisah fiksi yang ditulis oleh gabungan antara saintis dan filsuf amatir. Rasional-filosofis. Apa masih menarik?
Sebab di balik pertemuan dua manusia, yang lebih menakjubkan bukan cuma tentang rasa yang timbul serta kenangan - kenangan yang begitu menyihir. Melainkan algoritma - algoritma yang diciptakan Tuhan untuk membuat itu semua terjadi. Bagaimana waktu diperintah untuk tepat masa nya, bagaimana bumi diperintah untuk tepat tempatnya, bagaimana manusia lain diperintah untuk mengiringi proses pertemuan tersebut, serta proses kimia yang mempengaruhi rasa dan psikologis dua manusia itu. Tidakkah Tuhan begitu menakjubkan kuasa penciptaanNya?
Saat kita jatuh cinta, seharusnya kita lebih jatuh cinta padaNya. Tapi jika aku menulis tentangNya, apakah masih menarik bagimu semenarik kau membaca tulisan cinta yang mengingatkanmu pada seseorang di sana?
Apakah masih?
Lika-liku kehidupan
Di balik fakta muncul opini Langkah kaki yang menguliti debu-debu jalanan Membawa seutas kenangan dalam persaingan Lika-liku kehidupan ya...
-
T emanku adalah waktu yang terburu-buru Senja tak sempat jatuh di lengkung langit Memberi semacam senyum kepadamu Temanku adalah hujan yang...
-
Jika aku mencoba berada di antara titik-titik khayalan, akan kubentangkan pandangan ini hingga ke sudut jejak-jejak waktumu. Akan kualirkan ...
-
.. Katakanlah bahwa ini benar-benar terlantun dalam aliran sanubari negriku. Di atas patokan ganda ini terliris beberapa tutorial yang meng...