Jika aku tak menulis tentang cinta, apakah lantas tulisanku jadi tidak menarik?
Jika aku tak mengisahkan bagaimana aku jatuh cinta pada cara pandang seseorang, tingkah laku dan gerak geriknya, apakah kemudian tulisanku tak layak untuk dinikmati?
Jika aku bukan seseorang yang kasmaran melankolis, melainkan perempuan rasional-realistis, apakah lalu aku menjadi orang yang menjemukan?
Kepalaku dipenuhi dengan pertanyaan - pertanyaan tentang hidup, apa yang harus kupilih dalam hidup, apakah Tuhan ridho padaku kalau aku memilih ini atau itu, aku hanya punya sedikit waktu dan begitu banyak yang ingin kulakukan, apa yang Tuhan inginkan dariku untuk kuperankan?
Serta dikontaminasi oleh imajinasi - imajinasi fiktif sebuah dunia yang mungkin hanya bisa kulihat saat aku memejamkan mata. Dan hanya ada di kepalaku. Tentang kehidupan - kehidupan menakjubkan, danau misterius, hutan penuh dengan bunga - bunga ajaib, manusia bisa berenang di antara bintang - bintang. Sekaligus kepentok dengan perhitungan matematis saintifik bahwa imajinasi tersebut tidak nyata dan mustahil terwujud dengan hukum alam yang berlaku. Entah jika ternyata manusia bisa melampaui penemuan penemuan besar selama berabad - abad ini.
Di antara semua itu. Rasanya sulit jatuh cinta. Kecuali pada orang yang sama gilanya denganku. Jadi kalaupun aku menulis puisi cinta yang jadi kegemaran banyak manusia, mungkin rasionalnya terasa seperti kau membaca sebuah kisah fiksi yang ditulis oleh gabungan antara saintis dan filsuf amatir. Rasional-filosofis. Apa masih menarik?
Sebab di balik pertemuan dua manusia, yang lebih menakjubkan bukan cuma tentang rasa yang timbul serta kenangan - kenangan yang begitu menyihir. Melainkan algoritma - algoritma yang diciptakan Tuhan untuk membuat itu semua terjadi. Bagaimana waktu diperintah untuk tepat masa nya, bagaimana bumi diperintah untuk tepat tempatnya, bagaimana manusia lain diperintah untuk mengiringi proses pertemuan tersebut, serta proses kimia yang mempengaruhi rasa dan psikologis dua manusia itu. Tidakkah Tuhan begitu menakjubkan kuasa penciptaanNya?
Saat kita jatuh cinta, seharusnya kita lebih jatuh cinta padaNya. Tapi jika aku menulis tentangNya, apakah masih menarik bagimu semenarik kau membaca tulisan cinta yang mengingatkanmu pada seseorang di sana?
Apakah masih?
Rabu, 05 Juli 2017
Jika Aku Tak Menulis Tentang Cinta
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Lika-liku kehidupan
Di balik fakta muncul opini Langkah kaki yang menguliti debu-debu jalanan Membawa seutas kenangan dalam persaingan Lika-liku kehidupan ya...
-
T emanku adalah waktu yang terburu-buru Senja tak sempat jatuh di lengkung langit Memberi semacam senyum kepadamu Temanku adalah hujan yang...
-
Jika aku mencoba berada di antara titik-titik khayalan, akan kubentangkan pandangan ini hingga ke sudut jejak-jejak waktumu. Akan kualirkan ...
-
.. Katakanlah bahwa ini benar-benar terlantun dalam aliran sanubari negriku. Di atas patokan ganda ini terliris beberapa tutorial yang meng...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar